Amerika membawa saya pada kebenaran islam

Posted on 21 Desember 2011. Filed under: tentang islam |

Sama seperti
keturunan
Hispanik lainnya yang telah
lebih dulu menjadi Muslim,
Gaby Gonzales juga selalu
menolak disebut mualaf.
Menurutnya, dia tidak
berpindah agama, tapi
“pulang” pada agama yang
dianut nenek-moyangnya.
“Saya kembali pada Islam,”
ujarnya.
Menurutnya, jauh sebelum
Islam asuk ke Amerika dan
negara lain di dunia, Spanyol
telah lebih dulu berada di
bawah kekuasaan Islam selama
hampir 800 tahun sebelum
kerajaan Kristen Moor
merebutnya pada tahun 1492.
Dan sama seperti mualaf
lainnya, ia menghidupkan
tradisi masa lalu: memadukan
nama Islam dengan nama asli
mereka. Namun sehari-hari, ia
lebih suka dipanggil dengan
nama Islam; nama asli hanya
untuk keperluan resmi.
Gaby lahir di Honduras, 20
tahun lalu. Di masa lalu, ia
terfokus pada dirinya sendiri.
“Saya tidak berpikir tentang
orang lain, tentang orang tua
saya, hanya saya dan lingkaran
teman-teman saya,” ujarnya.
Sekarang, setiap hari ia
berusaha untuk menjadi lebih
baik, untuk melakukannya
dengan baik, untuk membantu
orang lain dan berhenti
menjadi egois dan sombong.
Bahkan, ia mempunyai julukan
baru di antara teman-teman
kuliahnya di jurusan
antropologi di Montclair State
University: Suster Gaby.
Pasalnya, ia kini berjilbab, dan
jilbab warna giok hijau adalah
favoritnya.
Gaby adalah salah satu dari
ribuan Latin yang telah masuk
Islam. Mualaf Latin beberapa
tahun terakhir memadati
banyak mesjid, termasuk
beberapa di North Jersey.
Bahkan, kini mereka
mengorganisasi diri dengan
embel-embel “Latino Muslim”
dalam nama organisasinya.
Bahkan, kini mulai dirintis
penerbitan Alquran terjamah
bahasa latin dan dai berbahasa
Latin.
***
Seperti Hispanik banyak yang
memeluk Islam, Gaby berasal
dari keluarga Katolik yang
saleh. Di Honduras, neneknya
selalu memastikan bahwa ia
benar-benar mengikuti aturan
agama. “Nenekku akan
mengamuk kalau aku tidak
pergi ke gereja, kalau aku tidak
membaca Alkitab hari itu.
Akibatnya aku tak pernah
berkembang secara alami,”
ujarnya.
Seperti remaja umumnya, di
usia “memberontak”, ia kerap
berbenturan dengan aturan
sang nenek. “Aku selalu stres,
melakukan hal-hal saya tidak
harus aku lakukan. Bila
tersadar, aku akan selalu
berdoa ‘Tuhan, tunjukkan aku
jalan-Mu yang lurus’,” ujarnya.
Lepas dari SMA, ia melirik
Amerika Serikat sebagai
tempat menimba ilmu
selanjutnya. Di negeri ini, ia
bertemu teman dati berbagai
bangsa dengan beragam latar
belakang keyakinan.
Namun, ia mengaku hatinya
tertambat pada Islam. Ilmu
yang dipelajarinya barangkali
sedikit banyak menyokong
ketertarikannya; khususnya
tentang peran Islam di abad
pertengahan.
“Saya membaca lebih banyak
tentang Islam yang saya ingin
tahu. Untuk mengetahui apa
yang menyebabkan begitu
banyak orang untuk
menyerahkan sepenuhnya
kepada agama ini. Ketika saya
membaca Quran, saya
menemukan kebenaran itu
berbicara tentang melayani
orang lain, menempatkan
orang lain terlebih dahulu..”
ujarnya. Islam membuatnya
merasa berlabuh.
Tapi belajar dari
temantemannya yang telah
lebih dulu menjadi Muslim,
mereka “membayar mahal”
untuk berpindah agama; antara
lain dibuang keluarga. Mereka
juga menjadi bahan ejekan dan
peringatan oleh sesama
Hispanik, apalagi bagi
Muslimah yang bertukar
penampilan juga.
Namun hatinya sudah mantap.
Dan betapa beruntungnya dia,
ketika akhirnya keluarganya
menerimanya dengan hangat. ¤¤¤sumber : http://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/01/13/158246-gaby-gonzales-amerika-membawa-saya-pada-kebenaran-islam

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: