Planet titan lebih layak di huni manusia dari pada planet mars

Posted on 21 Desember 2011. Filed under: informasi |

SELAMA ini, banyak orang berpikir bahwa Mars adalah planet yang paling layak dihuni
setelah bumi. Bisa dipahami memang, sebab Mars adalah planet yang paling sering
digembar-gemborkan memiliki potensi untuk mendukung kehidupan. Namun,
kenyataan menunjukkan bahwa ada tempat lain yang lebih mirip bumi sehingga bisa
dikatakan lebih layak huni.
Dr Dirk Schulze-Makuch, guru besar pada School of Earth and Environmental Sciences
dari Washington State University dalam publikasinya di jurnal Astrobiologi edisi
Desember 2011, menyatakan bahwa Titan, bulan planet Saturnus, adalah benda langit
paling layak huni, mengalahkan planet merah, Mars.
Selama ini, Titan yang permukaannya dingin dan berselimut kabut itu disebut-sebut
oleh para astronom sebagai bumi purba.
Dalam Indeks Daya Dukung Kehidupan Planet yang dikembangkan, seperti diuraikan
Nature, 23 Desember 2011, Titan meraih skor tertinggi. Bumi memiliki indeks 1.
Sementara Titan adalah 0,64, diikuti Mars (0,59), disusul Europa yang merupakan bulan
Jupiter (0,47). Dua eksoplanet yang dinyatakan layak huni adalah Gliese 581 g (0,49)
dan Gliese 581d (0,43).
Indeks Daya Dukung Kehidupan Planet itu dikembangkan berdasarkan beberapa
kriteria. Beberapa di antaranya adalah keberadaan batuan, air, energi, material organik,
dan jarak planet dari bintangnya. Titan punya potensi layak huni sebab terbukti
memiliki air dan energi.
Satelit Alam Saturnus
Titan merupakan salah satu dari 31 buah satelit alam milik Saturnus. Satelit ini
ditemukan astronom berkebangsaan Belanda, Christian Huygens, pada 25 Maret 1655.
Titan merupakan satelit terbesar yang mengorbit Saturnus. Setengah darinya tersusun
oleh es dan setengahnya lainnya material bebatuan. Lapisan bebatuan berada di pusat
satelit hingga radius 1.700 km. Di atas bebatuan terdapat lapisan kristal es hingga
permukaan satelit radius 2.575 km.
Titan lebih besar dari bulan (satelit bumi) dan planet Merkurius. Untuk satelit alam,
hanya Ganymade ñsatelit Yupiter– yang berdiameter lebih besar: 112 km.
Titan bermassa seperseratus ribu massa bumi dan berjarak 1,2 juta km dari Planet
Saturnus, atau tiga kali jarak bulan ke bumi. Tekanan atmosfernya 1,6 kali bumi, sama
seperti tekanan di lantai dasar kolam renang.
Titan amat menarik minat astronom karena merupakan satu-satunya satelit alam di
tata surya yang diketahui memiliki awan setebal 300 km, misterius dan menyerupai
atmosfer planet.
Menurut Dr Taufiq Hidayat dari Program Studi Astronomi ITB, komposisi atmosfer Titan
yang didominasi oleh nitrogen dan elemen-elemen hidrokarbon lain yang membentuk
warna jingga pada permukaannya, memunculkan spekulasi bahwa permukaan Titan
mirip dengan bumi kita di usia mudanya. Kemiripan lain antara atmosfer Titan dan
bumi adalah adanya siklus gas, di mana bumi memiliki siklus hidrologi (air), sementara
Titan memiliki siklus metana dan etana. “Harapannya, dengan mengamati atmosfer
Titan, akan didapatkan gambaran mengenai bagaimana cara kerja atmosfer bumi pada
zaman dahulu hingga mencapai komposisinya sekarang,” ujar Taufiq.
Begitu tebalnya lapisan atmosfer itu sehingga menghasilkan hujan berupa cairan mirip
gasolin. Sementara oksigen membeku dalam wujud es cair di permukaannya.
Komposisi kimia itulah yang menjadi tujuan terbesar penelitian dikarenakan
kemungkinan tersusun dari sejumlah senyawa yang berada di atmosfer bumi
primordial. Kandungan organik pada senyawa kimia yang ditemukan mengindikasikan
bahwa lingkungan di Titan memungkinkan munculnya bentuk kehidupan.
Namun temperatur permukaan Titan saat ini begitu rendah minus 178 derajat C
(minus 289 derajat F), hanya 4 derajat di atas titik jenuh metana, karena jauhnya jarak
dari matahari. Meskipun suhu serendah ini kurang memungkinkan munculnya
kehidupan, ada pandangan bahwa bentuk kehidupan tetap saja berpeluang muncul di
dalam danau hidrokarbon yang hangat akibat pemanasan internal Titan. Jikalau
nantinya Titan terbukti tidak memiliki bentuk kehidupan sebagaimana yang
diperkirakan, maka pemahaman mengenai interaksi kimia di situ akan membantu
manusia memahami lingkungan awal bumi.
Titan ósatu setengah kali ukuran bulanó mengorbit Saturnus selama 16 hari. Adapun
kecepatan rotasinya, yaitu mengitari porosnya sendiri, 16 hari juga. Artinya, kecepatan
rotasi dan orbit Titan adalah sama. Jadi, misalnya kita ada di Saturnus, maka yang
terlihat hanya setengah bagian Titan saja. Kondisi ini persis sama seperti halnya, jika
melihat bulan dari bumi. Karena tekanan gravitasinya sangat besar, pusat satelit ini
masih panas. Sama seperti bumi dengan inti planetnya yang sangat panas.
Teleskop Radio
Pengamatan permukaan Titan sangat sulit karena lapisan atmosfernya yang sangat
tebal. Kedalaman atmosfer hanya bisa diamati pada rentang gelombang radio, hanya
sebagian pada rentang gelombang inframerah, dan tidak bisa diamati pada rentang
gelombang visual. Karena itu, informasi satelit ini masih sedikit meskipun penelitian
telah dilakukan lebih dari dua dasawarsa.
Selama itu, telah muncul spekulasi adanya interaksi radiasi ultraviolet matahari dengan
metana yang berada di lapisan teratas atmosfer Titan. Reaksi fotokimia mengakibatkan
terbentuknya smog dan akhirnya mengakibatkan hujan hidrokarbon dalam wujud
padat dan cair dalam jumlah besar.
Penemuan terbaru kondisi Titan menggunakan teleskop radio raksasa berdiamater 305
m di Observatorium Arecibo, Brasil, memicu spekulasi adanya danau hidrokarbon
dalam wujud cair. Hal ini berdasarkan pantulan yang hanya bisa dilakukan oleh
permukaan datar.
Pengamatan dilakukan November dan Desember 2001 dan 2002. Sinyal radar
dipancarkan ke Titan dan kembali ke bumi selama 2, 25 jam. Observatorium Arecibo
dioperasikan pada panjang gelombang 13 cm (2,380 Mhz) dengan daya mendekati 1
megawatt (setara 1.000 pemanas listrik). Selain Teleskop Arecibo, secara bersamaan
digunakan juga teleskop Robert C Byrd Green Bank 100 m untuk menerima pantulan.
Ternyata, sinyal radar dipantulkan oleh permukaan Titan yang berwujud cair seperti
cahaya matahari yang jatuh pada lautan di bumi. Meskipun lapisan bawah permukaan
Titan berwujud es air (water ice), reaksi senyawa kimia kompleks di atmosfernya
menghasilkan etana, metana cair, dan hidrokarbon padat, yang menutupi sebagian
permukaan es Titan. Beberapa tahun lalu telah dibuat hidrokarbon buatan yang mirip
hidrokarbon padat Titan, yaitu Titan Tholin, di laboratorium oleh tim yang dipimpin
Carl Sagan, astronom karismatik dari Cornell University.
Akhirnya, melalui misi Cassini-Huygens yang diluncurkan pada 15 Oktober 1997 dengan
menggunakan roket Titan-IVB/Centaur, dari Cape Canaveral, Florida, AS dan menelan
biaya 3,25 miliar dolar AS tersebut, diharapkan informasi lengkap tentang satelit alam
Titan yang misterius tidak lama lagi akan diketahui. Pertanyaan-pertanyaan besar
seperti mungkinkah Titan layak untuk dihuni, tidak terlalu lama lagi bakal bisa
terjawab. Pemahaman atas awal mula munculnya kehidupan dan sejarah awal bumi,
mudah-mudahan menjadikan manusia semakin bijaksana dalam menjaga dan
memelihara kehidupan di planet kita ini. (Amien Nugroho-24)
¤¤¤ sumber: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/12/19/170487/Titan-Lebih-Layak-Huni-Dibanding-Mars ¤¤¤

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: