BUDIDAYA TOMAT : wa’sihin coba blog

Posted on 22 Desember 2011. Filed under: pengetahuan |

Tomat adalah komoditas
hortikultura yang penting,
tetapi produksinya baik
kuantitas dan kualitas masih
rendah. Hal ini disebabkan
antara lain tanah yang keras,
miskin unsur hara mikro serta
hormon, pemupukan tidak
berimbang, serangan hama
dan penyakit, pengaruh cuaca
dan iklim, serta teknis
budidaya petani
kami berupaya membantu
petani dalam peningkatan
produksi secara Kuantitas dan
Kualitas dengan tetap
memelihara Kelestarian
lingkungan (Aspek K-3), agar
petani dapat berkompetisi di
era perdagangan bebas.
A. FASE PRA TANAM
1. Syarat Tumbuh>
– Tomat dapat ditanam di
dataran rendah/dataran tinggi
– Tanahnya gembur, porus dan
subur, tanah liat yang sedikit
mengandung pasir dan pH
antara 5 – 6
– Curah hujan 750-1250 mm/
tahun, curah hujan yang tinggi
dapat menghambat persarian.
– Kelembaban relatif yang
tinggi sekitar 25% akan
merangsang pertumbuhan
tanaman yang masih muda
karena asimilasi CO2 menjadi
lebih baik melalui stomata
yang membuka lebih banyak,
tetapi juga akan merangsang
mikroorganisme pengganggu
tanaman dan ini berbahaya
bagi tanaman
2. Pola Tanam
– Tanaman yang dianjurkan
adalah jagung, padi, sorghum,
kubis dan kacang-kacangan
– Dianjurkan tanam sistem
tumpang sari atau tanaman
sela untuk memberikan
keadaan yang kurang disukai
oleh organisme jasad
pengganggu
3. Penyiapan Lahan
– Pilih lahan gembur dan subur
yang sebelumnya tidak
ditanami tomat, cabai, terong,
tembakau dan kentang .
– Untuk mengurangi nematoda
dalam tanah genangilah tanah
dengan air selama dua minggu
– Bila pH rendah berikanlah
kapur dolomite 150 kg/1000
m2 dan disebar serta diaduk
rata pada umur 2-3 minggu
sebelum tanam
– Buatlah bedengan selebar
120-160 cm untuk barisan
ganda dan 40-50 cm untuk
barisan tunggal
– Buatlah parit selebar 20-30
cm diantara bedengan dengan
kedalaman 30 cm untuk
pembuangan air.
– Berikan pupuk dasar 4 kg
Urea /ZA + 7,5 kg TSP + 4 kg KCl
per 1000 m2 diatas bedengan,
aduk dan ratakan dengan
tanah
– Atau jika pakai Pupuk
Majemuk NPK (15-15-15) dosis
± 20 kg / 1000 m2 dicampur
rata dengan tanah di atas
bedengan.
– Jika pakai Mulsa plastik, tutup
bedengan pada siang hari
– Biarkan selama 5-7 hari
sebelum tanam
– Buat lubang tanam dengan
jarak 60 x 80 cm atau 60 x 50
cm di atas bedengan, diameter
7-8 cm sedalam 15 cm
4. Pemilihan Bibit
– Pilih varietas tahan dan jenis
Hybryda ( F1 Hybryd )
– Bibit berdaun 5-6 helai daun
(25-30 HSS=hari setelah semai)
pindahkan ke lapangan
– Untuk mengurangi stress
awal pertumbuhan perlu
disiram dulu pada sore sehari
sebelum tanam atau pagi
harinya (agar lembab)
B. FASE PERSEMAIAN (0-30 HSS)
– Siapkan media tanam yang
merupakan campuran tanah
dan pupuk kandang 25 – 30 kg
– Masukkan dalam polibag
plastik atau contongan daun
pisang atau kelapa
– Sebarlah benih secara merata
atau masukkan satu per satu
dalam polibag
– Setelah benih berumur 8-10
hari , pilih bibit yang baik,
tegar dan sehat dipindahkan
dalam bumbunan daun pisang
atau dikepeli yang berisi
campuran media tanam
– Penyiraman dilakukan setiap
hari (lihat kondisi tanah)
C. FASE TANAM ( 0-15 HST=Hari
Setelah Tanam )
– Bedengan sehari sebelumnya
diairin dahulu,
– Bibit siap tanam umur 3 – 4
minggu, berdaun 5-6
– Penanaman sore hari
– Buka polibag plastik
– Benamkan bibit secara
dangkal pada batas pangkal
batang dan ditimbun dengan
tanah di sekitarnya
– Sulam tanaman yang mati
sampai berumur 2 minggu,
caranya tanaman yang telah
mati, rusak, layu atau
pertumbuhannya tidak normal
dicabut, kemudian dibuat
lubang tanam baru,
dibersihkan
– Pengairan dilakukan tiap hari
sampai tomat tumbuh normal
(Jawa : lilir), hati-hati jangan
sampai berlebihan karena
tanaman bisa tumbuh
memanjang, tidak mampu
menyerap unsur-unsur hara
dan mudah terserang penyakit
– Amati hama seperti ulat
tanah dan ulat grayak. Jika ada
serangan semprot dengan
Fastac ec atau Ripcord.
– Amati penyakit seperti
penyakit layu Fusarium atau
bakteri dan busuk daun ,
kendalikan dengan
menyemprot Natural GLIO
dicampur gula pasir
perbandingan 1:1. Untuk
penyakit Virus, kendalikan
vektornya seperti Thrips, kutu
kebul (Bemissia tabaci), banci
( Aphis sp.), Kutu persik (Myzus
sp.) dan tungau (Tetranichus
sp.) dengan menyemprot
RAMPAGE 100 ECsecara
bergantian
– Pasang ajir sedini mungkin
supaya akar tidak rusak
tertusuk ajir dengan jarak
10-20 cm dari batang tomat
D. FASE VEGETATIF ( 15-30 HST)
– Jika tanpa mulsa, penyiangan
dan pembubunan pada umur
28 HST bersamaan
penggemburan dan pemberian
pupuk susulan diikuti
pengguludan tanaman
– Setelah tanaman hidup
sekitar 1 minggu semenjak
tanam, diberi pupuk Urea dan
KCl dengan perbandingan 1:1
untuk setiap tanaman (1-2
gram), berikan di sekeliling
tanaman pada jarak ± 3 cm dari
batang tanaman tomat
kemudian ditutup tanah dan
siram dengan air
– Pemupukan kedua dilakukan
umur 2-3 minggu sesudah
tanam berupa campuran Urea
dan KCl (± 5 gr), berikan di
sekeliling batang tanaman
sejauh ± 5 cm dan sedalam ± 1
cm kemudian ditutup tanah
dan siram dengan air.
– Bila umur 4 minggu tanaman
masih kelihatan belum subur
dapat dipupuk Urea dan KCl
lagi (7 gram). Jarak
pemupukan dari batang dibuat
makin jauh ( ± 7 cm).
– Jika pakai Mulsa tidak perlu
penyiangan dan pembubunan
serta pupuk susulan diberikan
dengan cara dikocorkan
– Penyiraman dilakukan pada
pagi atau sore hari
– Amati hama dan penyakit
seperti ulat, kutu-kutuan,
penyakit layu dan virus, jika
terjadi serangan kendalikan
seperti pada fase tanam
– Tanaman yang telah
mencapai ketinggian 10-15 cm
harus segera diikat pada ajir
dan setiap bertambah tinggi +
20 cm harus diikat lagi agar
batang tomat berdiri tegak.
– Pengikatan jangan terlalu erat
dengan model angka 8,
sehingga tidak terjadi gesekan
antara batang dengan ajir yang
dapat menimbulkan luka.
E. FASE GENERATIF (30 – 80 HST)
1. Pengelolaan Tanaman
– Jika tanpa mulsa penyiangan
dan pembubunan kedua
dilakukan umur 45-50 hari
– Untuk merangsang
pembungaan pada umur 32
HST lakukan perempelan tunas-
tunas tidak produktif setiap
5-7 hari sekali, sehingga
tinggal 1-3 cabang utama /
tanaman
– Perempelan sebaiknya pagi
hari agar luka bekas rempelan
cepat kering dengan cara;
ujung tunas dipegang dengan
tangan bersih lalu digerakkan
ke kanan-kiri sampai tunas
putus. Tunas yang terlanjur
menjadi cabang besar harus
dipotong dengan pisau atau
gunting, sedangkan tanaman
yang tingginya terbatas
perempelan harus hati-hati
agar tunas terakhir tidak ikut
dirempel sehingga tanaman
tidak terlalu pendek
– Ketinggian tanaman dapat
dibatasi dengan memotong
ujung tanaman apabila jumlah
dompolan buah mencapai 5-7
buah
2. Pengamatan Hama dan
Penyakit
– Ulat buah (Helicoperva
armigera dan Heliothis sp.).
Gejala buah berlubang dan
kotoran menumpuk dalam
buah yang terserang. Lakukan
pengumpulan dan
pemusnahan buah tomat
terserang, semprot dengan
ALVERDE 240 SC
– Lalat buah (Brachtocera atau
Dacus sp.).Gejala buah busuk
karena terserang jamur dan
bila buah dibelah akan
kelihatan larva berwarna putih.
– – Bersifat agravator, yaitu
sebagai vektornya penyakit
jamur, bakteri dan Drosophilla
sp. Kumpulkan dan bakar buah
terserang, gunakan perangkap
lalat buah jantan (dapat
dicampur insektisida )
– Busuk daun (Phytopthora
infestans), bercak daun dan
buah (Alternaria solani) serta
busuk buah antraknose
(Colletotrichum coccodes). Jika
ada serangan semprot dengan
CABRIO 250 EC.
– Jika pengendalian hama
penyakit dengan menggunakan
pestisida alami,jika belum
mengatasi dapat dipergunakan
pestisida kimia yang dianjurkan
seperti ACROBAT 50 WP. Agar
penyemprotan pestisida kimia
lebih merata dan tidak mudah
hilang oleh air hujan
tambahkan Perekat Perata.
– Busuk ujung buah. Ujung
buah tampak lingkaran hitam
dan busuk. Ini gejala
kekurangan Ca ( Calsium).
Berikan Dolomit.
F. FASE PANEN & PASCA PANEN
(80 – 130 HST)
– Panen pada umur 90-100 HST
dengan ciri; kulit buah berubah
dari warna hijau menjadi
kekuning-kuningan, bagian
tepi daun tua mengering,
batang menguning, pada pagi
atau sore hari disaat cuaca
cerah. Buah dipuntir hingga
tangkai buah terputus.
Pemuntiran buah dilakukan
satu-persatu dan dipilih buah
yang siap petik. Masukkan
keranjang dan letakkan di
tempat yang teduh
– Interval pemetikan 2-3 hari
sekali.
– Supaya tahan lama, tidak
cepat busuk dan tidak mudah
memar, buah tomat yang akan
dikonsumsi segar dipanen
setengah matang
– Wadah yang baik untuk
pengangkutan adalah peti-peti
kayu dengan papan bercelah
dan jangan dibanting
– Waspadai penyakit busuk
buah Antraknose, kumpulkan
dan musnahkan
– Buah tomat yang telah
dipetik, dibersihkan, disortasi
dan di packing lalu diangkut
siap untuk konsumsi.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: